Tanah Lot Art & Festival 2026 libatkan 23 desa adat

“Tanah Lot Art & Festival 2026 akan menjadi panggung kolaborasi budaya yang melibatkan 23 desa adat Bali,” ujar Ketua Panitia, I Made Suwitra, dalam pertemuan pers kemarin. Festival yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menampilkan instalasi seni kontemporer, tetapi juga mengangkat tradisi lokal melalui parade mapeed yang sarat makna. Para perempuan dari berbagai desa menata gebogan—sesajen berisi buah, kue, bunga, dan hiasan janur—sebagai simbol rasa syukur dan harapan bagi kelestarian budaya.

Parade mapeed dimulai dari pelabuhan kecil di Pantai Seseh, lalu mengalir menuju Tanah Lot, menghubungkan 23 desa adat yang berpartisipasi. Setiap desa menampilkan kostum tradisional yang dipadukan dengan elemen modern, menciptakan visual yang memukau sekaligus memperlihatkan evolusi identitas Bali. Penonton dapat menyaksikan proses pembuatan gebogan secara langsung, sehingga mereka tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian aktif dalam ritual tersebut.

Selain pertunjukan jalanan, festival ini menampilkan pameran seni rupa, instalasi interaktif, dan lokakarya kreatif yang melibatkan seniman lokal serta internasional. Salah satu instalasi unggulan, “Samudra Harmoni,” menggabungkan lampu LED dengan anyaman janur, menyoroti hubungan antara laut dan daratan yang menjadi inti kehidupan masyarakat pesisir. Workshop batik, ukir kayu, dan tari tradisional juga dibuka untuk umum, memberi kesempatan bagi pengunjung belajar langsung dari para master.

Dukungan pemerintah daerah dan sponsor swasta memastikan fasilitas yang memadai, mulai dari area parkir hingga layanan kesehatan darurat. Tim keamanan dan kebersihan bekerja sama dengan komunitas setempat untuk menjaga kelancaran acara, sekaligus melestarikan kebersihan pantai Tanah Lot yang menjadi ikon wisata dunia. Semua pihak berkomitmen menjadikan festival ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai platform edukasi budaya bagi generasi muda.

Dengan mengintegrasikan unsur tradisional dan kontemporer, Tanah Lot Art & Festival 2026 diharapkan menjadi contoh sukses kolaborasi lintas desa adat dalam mempromosikan warisan budaya Bali. Acara ini tidak hanya memperkuat rasa kebersamaan antar desa, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif bagi para pengrajin lokal. Penutupan festival dijadwalkan pada akhir pekan pertama September, dengan harapan dampaknya akan terus berlanjut jauh setelah tirai terakhir turun.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*