“Ekaristi kali ini kami laksanakan di luar gereja karena rumah ibadah kami rusak total akibat gempa,” ujar Pastor Fransiskus Suryadi, kepala Paroki Yesus Kerahiman Ilahi, Aer Aer. Ia menegaskan bahwa meski bangunan suci hancur, iman umat Katolik tetap menyala dan tidak terhalang untuk beribadah.
Setelah gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Senin dini hari, sebagian besar struktur gereja Paroki Aeramo runtuh, meninggalkan puing‑puing yang menghalangi akses masuk. Dengan cepat, para petugas paroki mengorganisir tempat sementara di lapangan terbuka dekat alun‑alun desa, sambil menyiapkan perlengkapan liturgi yang selamat dari kerusakan. Kegiatan ekaristi yang biasanya berlangsung di dalam ruangan, kini diubah menjadi prosesi terbuka yang dihadiri ratusan jemaat, termasuk warga yang kehilangan tempat tinggal.
Masa pasca‑gempa menuntut solidaritas, dan para relawan gereja bersama tim SAR setempat bekerja bergantian menyalakan lilin, menyiapkan doa, serta membagikan bantuan makanan kepada korban. Pastor Fransiskus menambahkan, “Kami ingin menunjukkan bahwa Gereja bukan hanya dinding batu, melainkan komunitas yang hidup dalam kasih dan harapan.” Ia juga mengajak umat untuk tetap tenang, menunggu proses rekonstruksi yang diperkirakan memakan waktu berbulan‑bulan ke depan.
Sementara itu, pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan telah mengirimkan bantuan darurat, termasuk tenda, air bersih, dan peralatan medis. Pihak kepolisian setempat memastikan keamanan area ibadah sementara, sementara para arsitek dan insinyur mulai merancang rencana pembangunan kembali gereja dengan standar tahan gempa. Dengan semangat kebersamaan, Paroki Aeramo berharap proses pemulihan tidak hanya mengembalikan bangunan, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual umatnya.
Leave a Reply